22.06


PENGAWETAN BAHAN PANGAN BUAH MENGGUNAKAN BAHAN SENYAWA KIMIAWI


KELOMPOK I
JULIAR NUR (H411 10 002)
RESKI NUR ALAM (H411 10 008)
ASRIANTI (H411 10 262)


 
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013


BAB I
PENDAHULUAN

            Buah-buahan selama proses pengiriman atau penyimpangan memerlukan waktu utnuk sampai ketangan kosumen. Pada kenyataannya setiap buah memiliki masa waktu penyimpingan yang beranekaragam. Jika buah-buahan dipetik pada saat terlalu muda atau terlalu matang, maka akan sia-sia bahan pangan tersebut karena akan ditolak oleh konsumen. Terjadinya kerusakan buah-buahan tersebut merupakan masalah utama dan sepertinya juga terjadi dimasa-masa panen. Hal ini dikarenakan karena terjadinya pencemaran, termakan oleh binatang perusak, penggunaan yang tidak efektif serta pembusukan. Pembusukan bahan pangan dapat diartikan sebagai setiap perubahan dari bahan pangan yang masih segar maupun yang telah diolah di mana perubahan sifat-sifat kimiawi, fisik, maupun organoleptik dari bahan pangan tersebut mengakibatkan ditolaknya bahan pangan tersebut oleh konsumen (Buckle, 1985).
            Kerusakan bahan pangan telah dimulai sejak bahan pangan tersebut dipanen. Penyebab utama kerusakan bahan pangan adalah (1) pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme; (2) Aktivitas enzim dalam bahan pangan; (3) suhu baik suhu tinggi maupun suhu rendah; (4) udara khususnya oksigen; (5) kadar air dan kekeringan; (6) cahaya; dan (7) serangga, parasit serta pengerat. Pengawetan pangan pada dasarnya adalah tindakan untuk memperkecil atau menghilangakan faktor-faktor perusak tersebut (Santoso, 2006).
            Agar dapat berjalan, setiap reaksi kimiawi dan enzimatis membutuhkan kondisi lingkungan yang optimum (misalnya suhu, pH, konsentrasi garam, ketersediaan air, kofaktor dan faktor lainnya). Sebagai contoh, mikroorganisme memerlukan semua kondisi yang optimum untuk berlangsungnya reaksi kimiawi dan enzimatis, dan juga membutuhkan karbon, sumber nitrogen, beragam mineral, dan ada atau tidak ada oksigen (aerobik/anaero-bik), beberapa vitamin dan sebagainya (Rahmawati, 2008).
            Kehilangan mutu dan kerusakan pangan disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut(Rahmawati,2008):
1. Pertumbuhan mikroba yang menggunakan pangan sebagai substrat untuk memproduksi toksin didalam pangan;
2. Katabolisme dan pelayuan (senescence) yaitu proses pemecahan dan pematangan yang dikatalisis enzim indigenus;
3. Reaksi kimia antar komponen pangan dan/atau bahan-bahan lainnya dalam lingkungan penyimpanan;
4. Kerusakan fisik oleh faktor lingkungan (kondisi proses maupun penyimpanan)
5. Kontaminasi serangga, parasit dan tikus.
            Untuk mengontrol kerusakan kita harus membuat kondisi yang dapat menghambat terjadinya reaksi yang tidak dikehendaki. Secara umum, penyebab utama kerusakan produk susu, daging dan unggas adalah mikroorganisme sementara penyebab utama kerusakan buah dan sayur pada tahap awal adalah proses pelayuan (senescence) dan pengeringan (desiccation) yang kemudian diikuti oleh aktivitas mikroorganisme. Prinsip pengawetan pangan ada tiga, yaitu(Rahmawati, 2008):
1. Mencegah atau memperlambat kerusakan mikrobial;
2. Mencegah atau memperlambat laju proses dekomposisi (autolisis) bahan pangan;
3. Mencegah kerusakan yang disebabkan oleh faktor lingkungan termasuk serangan hama.
BAB II
ISI
 Menurut pakar gizi dari RS Internasional Bintaro Banten, secara garis besar zat pengawet dibedakan menjadi tiga, yaitu (Widianti, 2009):
1. GRAS (Generally Recognized as Safe) yang umumnya bersifat alami, sehingga aman dan tidak berefek racun sama sekali.
2. ADI (Acceptable Daily Intake), yang selalu ditetapkan batas penggunaan hariannya (daily intake) guna melindungi kesehatan konsumen.
3. Zat pengawet yang memang tidak layak dikonsumsi, alias berbahaya seperti boraks, formalin dan rhodamin B. Formalin, misalnya, bisa menyebabkan kanker paru-paru serta gangguan pada alat pencernaan dan jantung. Sedangkan penggunaan boraks sebagai pengawet makanan dapat menyebabkan gangguan pada otak, hati, dan kulit.
Berikut adalah bahan-bahan pengawet yang diizinkan (Widianti, 2009):
asam benzoat,                                           asam propionat,
asam sorbat,                                             sulfur dioksida,
etil p-hidroksi benzoat,                            kalium benzoat,
kalium sulfit,                                            kalium bisulfit,
kalium nitrat,                                            kalium nitrit,
kalium propionat,                                     kalium sorbat,
kalsium propionat,                                    kalsium sorbat,
kalsium benzoat,                                      natrium benzoat,
metil-p-hidroksi benzoat,                         natrium sulfit,
natrium bisulfit,                                        natirum metabisulfit,
natrium nitrat,                                          natrium nitrit,
natrium propionat,                                    nisin,
propil-p-hidroksi benzoat.
            Cara pengawetan dengan menggunakan bahan-bahan kimia, seperti gula pasir, garam dapur, nitrat, nitrit, asam benzoat, asam propoionat, asam sitrat, garam sulfat, dan lain-lain. Proses pengasapan termasuk jenis pengawetan secara kimia, bahan-bahan kimia dalam asapdapat berfungsi sebagai pengawet makanan. Dengan jumlah pemakaian yang tepat, pengawetan dengan cara kimiapada makanan akan lebih praktislebih dapat menghambat berkembangnya mikroorganismeseperti jamur, bakteri dan protozoa (Kristianingrum, 2007).
            Beberapa cara pengawetan bahan pangan buah yang bisa diterapkan antara lain pendinginan, pembungkusan dengan polietilen dan penambahan bahan kimia (Kristianingrum, 2007):
a.       Pendinginan
Penyimpanan dibawah suhu 15oC dan diatas titik beku bahan pangan dikenal sebagai penyimpangan dingin (chiling stroage). Penyimpanan buah-buahan dan sayur-sayuran memerlukan temperatur yang optimum untuk mempertahankan mutu dan kesegaran. Temperatur optimum dapat menyebabkan kerusakan karena pendinginan (chiling injury). Kerusakan pendinginan dari buah pisang pada temperatur kritis (130C) adalah warna kusam, perubahan citarasa, dan tidak bisa masak. Kondisi optimum pendinginan pada pisang adalah 11-200C dan RH 85-95 %. Pada suhu ini metabolisme oksidatif seperti respirasi berjalan lebih sempurna. Pendinginan tidak mempengaruhi kualitas rasa, kecuali bila buah didinginkan secara berlebihan sehingga proses pematangan terhenti.
b.      Pengemasan dengan polietilen
Kehilangan air dapat dikurangi dengan jalan memberi pembungkus pada bahan yang ingin didinginkan. Salah satu jenis pembungkus yang cukup baik digunakan adalah pembungkus dari bahan plastik. Berdasarkan penelitian Scott dan Robert (1987) penyimpanan pisang yang masih hijau dalam kantong polietilen dapat memperlambat pematangan pisang selama 6 hari pada suhu 200C.
c.       Pelapisan buah dengan emulsi lilin
Bahan dan alat: Mangga, Apel, Belimbing, Pisang, jambu biji, tomat, cabe merah, buncis, ketimun, lilin, trietanolamin, asam oleat, KmnO4, Cacl2, batu apung, ember plastik, panci enamel, keranjang kawat, termometer, pengaduk, stopwatch, desikator. Cara pembuatan emulsi lilin adalah sebagai berikut:
1.      Lilin dipanaskan sampai meleleh pada suhu 90-950C
2.      Masukkan asam oleat sediki demi sedikit dan perlahan-lahan sambil diaduk (bila menggunakan stireer kecepatan 20-200 rpm).
3.      Tambahkan trietanolamin tetap diaduk dan suhu tetap dipertahankan
4.      Tambahkan air (tidak sadah) yang sudah dididihkan (90-95)0C dengan perlahan-lahan sambil terus diaduk.
5.      Didinginkan dengan cepat menggunakan air mengalir.
Untuk mendapatkan emulsi lilin dengan konsentrasi yang diinginkan dilakukan pengenceran dengan air (tidak sadah). Untuk pemakaiannya sebaiknya digunakan emulsi lilin yang masih segar. Buah dan sayur yang sudah ditiriskan dimasukkan kedalam keranjang kawat kemudian celupkan pada emulsi lilin (konsentrasi 6dan 12%) sampai semua terendam selama 30-60 detik. Angkat dan tiriskan pada rak penirisan dengan dihembus udara kering agar pelapisannya meresap pada seluruh permukaan kulit dan tidak lengket. Simpan pada suhu ruang dan dalam lemari es.
d.      Penggunaan kalium permanganat (KMnO4)
Dari hasil penelitian di Malaysia ternyata buah pisang mas memerlukan zat penyerap etilen dan perlu disimpan dalam lemari pendingin agar tetap hijausampai 6 minggu. Macam-macam bentuk penyerap etilen telah dicoba seperti blok campuran vermiculate dan semen dengan perbandingan 3 : 1 yang dicelupkan dalam KmnO4 dapat digunakan sebagai bahan penyerap etilen atau blok-blok campuran lempeng dan semen yang dicelupkan dalam KmnO4. Suatu preparasi komersil zat penyerap yang disebut purafil (KMnO4 alkalis dengan silikat) sebagai pendukung yang dihasilkan oleh Marbon Chemical Company, ternyata mampu menyerap keseluruhan etilen yang dikeluarkan oleh buah pisang yang disimpan dalam kantong polietilen tertutup rapat. Dalam penelitian pengawetan pisang ambon dengan menggunakan KMnO4 1,5% dengan penyimpanan selama 14 hari mutu pisang masih tetap baik. Penggunaan KMnO4 bersifat tidak menguap sehingga dapat disimpan berdekatan dengan buah tanpa menimbulkan kerusakan buah.
e.       Pengawetan dengan samper fresh
1.      Siapkan emulsi samper fresh dengan konsentrasi 0.6-4 %
2.      Rendam pisang dan paprika yang sudah dicuci bersih dan dikeringkan kedalam emulsi samper fresh ± menit, tiriskan lau biarkan lapisan ini mengering.
3.      Timbang lalu letakkan pisang dalam baki strofom, lapisai dengan wrapping film dan panaskan sebentar hingga lapisan ini kencang.
4.      Lubangi bagian atas film dengan jarum setiap 2 cm sebagai ventilasi
5.      Penyimpangan dapat dilakuakan dalam suhu kamar atau suhu dingin 140C (untuk pisang) dansuhu refigerasi atau 40C untuk paprika.
f.       Pencelupan dengan larutan CaCl
Tepatkan buah dan sayur kedalam keranjang kawat, kemudian dicelupkan kedalam larutan CaCl2 (konsentrasi 4 dan 8%) selama 30 detik. Angkat dan tiriskan pada rak penirisan dengan dihembus udara kering, agar pelapisan merata pada seluruh permukaan kulit. Simpan pada suhu ruang dan dalam lemari pendingin.
 BAB III
PENUTUP

Banyak metode yang dapat kita gunakan dalam mengawetkan buah-buahan secara kimiawi tetapi itu tergantung bagaimana kita menyikapi metode tersebut. Dosis maksimun atau batas baku penggunaan senyawa kimia tidak boleh diabaikan begitu saja, demi keamanan makanan yang kita konsumsi.
DAFTAR PUSTAKA

Buckle, K.A., Edwards, R.A., Fleet, G.H., dan Wootton, M. 1985. Ilmu Pangan (terjemahan dari Hari Purnomo dan Adiono). UI Press. Jakarta.

Kristianingrum, S. 2007. Beberapa Metode Pengawetan Buah-buahan. Jurnal Pendidikan Kimia FMIPA UNY. Yogyakarta.

Rahmawati, F. 2008. Pengantar Pengawetan Makanan. Jurnal Pendidikan Teknik Boga FT UNY. Yogyakarta.

Santoso. 2006. Teknologi Pengawetan Bahan Segar. Jurnal FAPERTA UNIWAGA MALANG. Malang.

Widianti, E. 2009. Bahan Pengawet. Bahan Ajar Kimia UPI. Diakses http://kimia.upi.edu/utama/bahanajar/kuliah_web/2007/evi%20w/data%20pengawet.pdf.

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔